Kamis, 20 Agustus 2015

Hal Unik Dibalik Proklamasi Kemerdekaan RI

 Halo sobat! udah lama ga posting, hehe. Kali ini saya akan memberikan sebuah postingan tentang fakta unik saat proklamasi. Udah terlambat ya? ga papa deh, lumayan kan nambah pengetahuan :D












  70 tahun sudah Indonesia merdeka, meskipun sudah lama merdeka ternyata masih ada beberapa guyonan masyarakat yang menanyakan kebenaran akan sudah merdekanya bangsa ini. Terlepas dari apapun penilaian masyarakat kita tetap harus menghargai pejuang-pejuang kita  yang susah payah merebut kemerdekaan bangsa ini dari para penjajah. Beragam peristiwa patriotik mereka terukir dalam sejarah yang pasti disampaikan guru-guru ataupun orang tua kita di sekolah maupun di rumah.
   Namun dibalik kumpulan peristiwa bersejarah tersebut terdapat juga beberapa fakta yang cukup unik, sekarang mungkin terlupakan atau bahkan sama sekali kita tidak mengetahuinya. Penasaran..? Ini dia:

1. Soekarno Sakit Saat Malam Proklamasi
   Pada malam proklamasi ternyata Soekarno sedang menderita malaria yang menyebabkan dia tidak enak badan dan demam. Pada saat itu Bung Karno harus begadang bersama sahabatnya untuk menyusun naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Setelah selesai, Bung Karno dialiri chinineurethan intramusculair dan meminum obat pil brom chinine serta kemudian tidur.
Besoknya Bung Karno bangun sekitar pukul 09:00 dan tepat pada pukul 10:00 beliau membacakan teks Proklamasi. Setelah selesai mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dilakukan upacara bendera, Bung Karno kembali ke kamar tidur dan beristirahat. really? It is history :)

2. Bendera Pusaka Terbuat dari Kain Sprei
   Sebelum 16 Agustus 1945, Istri Bung Karno, Fatmawati, sebenarnya sudah membuat bendera merah putih. Tapi bendera itu dianggap terlalu kecil karena panjangnya hanya 50 cm. Fatmawati lalu membongkar lemarinya dan menemukan selembar kain sprei putih, tapi tidak ada kain merah. Lalu seorang pemuda bernama Lukas Kastaryo berkeliling dan mendapatkan kain merah milik penjual soto. Kain tersebut dibeli dan diberikan kepada Fatmawati. Bendera baru berukuran 276×200 cm itu pun dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di tiang bambu sederhana. What do you say? Fantastic :D

3. Naskah Proklamasi Hilang, dan Ditemukan di Tempat Sampah
   Draft teks proklamasi ditulis pada secarik kertas oleh Bung Karno dengan didikte oleh Bung Hatta. Anehnya, setelah acara selesai, dokumen penting itu hilang. Ternyata kertas tersebut terbuang di tempat sampah di rumah Laksamana Maeda. Beruntung, wartawan BM menemukannya. Setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari, akhirnya dia menyerahkannya kepada presiden Soerharto pada tanggal 29 Mei 1992. Believe it? hoho maybe :D

4. Upacara Dilangsungkan Secara Sederhana
   Proklamasi tentunya tidak dilakukan seperti zaman sekarang. Upacara berlangsung tanpa protokol, korps musik, konduktor dan pancagram. Tiang bendera yang terbuat dari bambu juga hanya di pasang sekitar beberapa menit sebelum upacara dilaksanakan. Namun pada saat itu rakyat Indonesia yang telah berada di halaman rumah Soekarno serentak menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan berbaris rapi tanpa ada yang memandu. Wow? Fantastic

5. Negatif Film Foto Dokumentasi Kemerdekaan Disimpan di Bawah Pohon
   Upacara proklamasi diabadikan oleh fotografer Frans Mendoer. Begitu upacara selesai, Frans didatangi tentara Jepang yang ingin merampas negatif film gambar tersebut. Frans berbohong dengan mengatakan negatifnya sudah diserahkan ke Barisan Polopor. Padahal, negatif film momen penting tersebut ditanamnya di bawah pohon di halaman kantor Harian Asia Raja. Andai negatif film tersebut dirampas Jepang, tentu kita tak akan pernah bisa melihat momen dramatis peristiwa proklamasi yang bersejarah. What? Negatif film? Negatif film is klise :D

6. Microphone Mati Saat Pembacaan Teks Proklamasi
   Ketika Soekarno sedang membacakan teks proklamasi, tiba-tiba saja microphone yang digunakannya mati. Dan rekaman-rekaman teks proklamasi yang saat ini sering diperdengarkan adalah teks yang direkam pada tahun 1950an. Wajar saja kualitas pengeras suara saat itu tidak sehebat ini, apalagi penyetel suara yang handa. hoho? hehe

   Nah, teman-teman sudah tau kan sedikit fakta dibalik proklamasi  70 tahun silam?. Mungkin masih banyak lagi hal-hal unik yang belum saya ketahui karena keterbatasan pengetahuan hehe. Dari fakta tersebut bisa kita ambil kesimpulan. Ketika proklamasi mungkin teknologi yang ada sangat minim tapi semangat juang mereka sangat kuat sehingga bisa mewujudkan kemerdekaan Indonesia, namun sekarang teknologi sudah sangat komplit tapi semangat kita sangat minim sehingga kita tidak bisa memberikan kontribusi untuk Indonesia. boro-boro Indonesia, desa kita aja ga bisa :D.

   Dari hal tadi kita bisa belajar bahwa perjuangan itu pasti akan membuahkan hasil, tinggal kita yang harus memiliki semangat dan melaksanakan amanah yang ada di pundak kita sebagai warga negara Indonesia, semoga bermanfaat :)

Jumat, 14 Agustus 2015

Remaja Tunanetra yang Hafal Al Qur'an



 Halo sobat, jumpa lagi dipostingan saya, kali ini saya akan menulis tentang seorang hafidz yang beberapa hari yang lalu tampil di STQN XXIII di Gedung Asrama Haji Jakarta, sebelum membaca tulisan ini ada baiknya kawan-kawan membantu postingan saya dengan mengklik tulisan iklandiatas (yang tertera sebelum judul) hehe.



 


Kisah Tunatetra Penghafal 30 Juz dan Cincin Batu








 

    Suara barisan penonton yang duduk di depan panggung setinggi satu meter itu tampak riuh. Sesekali, dua bocah berkerudung berlarian di depan panggung, saling mengejar. Suaranya menggema di dalam Gedung D3, Asrama Haji Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2015, sore.

   Ketika pembaca acara menyampaikan informasinya. "Peserta urutan ke-12 diharap maju,"
Seketika suara penonton yang hadir tenggelam tenang. Dua bocah berkerudung yang tadi berlarian sudah duduk karena perintah orangtuanya.

   Tak berselang lama, dari belakang si pembaca acara, seorang pria bertubuh gempal berjalan menuju panggung. Langkahnya perlahan. Beda dengan tahfidz yang lain, ia tidak sendiri. Seorang bertubuh kecil menuntun jalannya.

   Berbaju hijau dan bersongkok hitam, Rahmat Iskandar duduk bersila di memunggungi gapura bertuliskan Seleksi Tilawatil Quran XXIII cabang hifzhil kategori 30 juz. Sorotan lampu tampak memerindah ornamen panggung kecil itu. Sayang, tata artistik panggung itu tak bisa ia saksikan.
Tet, tet. Bel tanda dimulainya ujian.

Salah seorang dari balik sekat berwarna putih yang duduk di samping-samping depan panggung mengucapkan basmallah. Tak berselang lama sebuah potongan ayat dari Surat At-Taubah terbaca mengalun.

   Jantung Rahmat berdegub kencang. Tanda grogi. Tetapi, ia mencoba tetap tenang.
Rahmat kemudian melanjutkan potongan ayat yang dibacakan Dewan Hakim tadi. Suaranya mengalun indah. Tak tampak grogi. Hadirin menyimak. Tiga kali suara bel berbunyi. Sebuah potongan ayat dibaca lagi. Rahmat masih sanggup melanjutkan, tak ada yang meleset.

   Kali ini, lantunan ayat suci yang keluar dari mulutnya seolah menghipnotis penonton. Suasana jadi khusyuk. Hingga akhirnya, suara bel empat kali terdengar. Tanda ujian hafalan Alquran selesai. Doa penutup segera terucap dari mulutnya,
"Sodaqollahul Adzim...," tutupnya.

   Sontak penonton yang hadir berpekik, "Subhanallah!". Tampak pula ada yang berdiri dan bersiap menuju ke padanya. Saat berjalan tak jauh dari panggung, beberapa orang berebut menyalami. Bahkan ada yang mencium tangannya. Sebagian lagi mengajaknya berfoto. Tapi, Rahmat masih tak dapat melihat wajah-wajah itu. Dia hanya mendengar sekelilingnya riuh. Ucapan takjub masih terdengar. Kali ini ucapan itu terdengar lirih, "Subhanallah."

   Agak jauh dari kerumunan penonton, Rahmat diminta duduk. Dia meraba-raba kursi yang diletakkan di dekat salah satu pilar bangunan gedung. Ya, itulah Rahmat Iskandar. Remaja tunanetra berusia 19 tahun asal Lampung. Meski tak dapat melihat, namun dia mampu menghafal 30 juz Alquran.

   Kemahirannya menghafal Alquran itu didapatnya ketika menjadi santri di Pesantren Miftahul Jannah, Lampung Timur. Dia yang kala itu berusia delapan tahun mendapatkan bantuan menghafal Alquran dari sang pemilik pondok, KH Ainun Shiha.

   "Pertama kali dibacakan oleh Pak Kyai. Saya mendengar lalu lafalkan. Hafalannya pada awal-awal tidak banyak," katanya. Di tahun 1999, saat ia berusia 12 tahun, 30 juz Alquran itu ia tamatkan. Meskipun sudah mencapai katam ia terus mengulang hafalannya.
"Sehari setidaknya satu juz," katanya.

   Pernyataan Rahmat itu diamini Noven, salah satu pendamping kontingen STQ asal Lampung. Noven, yang mengenal Rahmat sejak berusia 10 tahun, mengaku takjub dengan kemampuan Rahmat.
"Dari dulu bekal hafalannya sudah kuat. Sehingga dia tinggal mengulang," ungkapnya.
Noven mengatakan, proses belajar Rahmat yang pesat terbantu teknologi. "Jika dahulu harus dibacakan kiai, kini pakai kaset," tuturnya.

   Kesabaran Rahmat menghafal menunjukkan hasilnya saat mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional tahun 2014 yang diselenggarakan di Batam, Kepulauan Riau. Di pentas MTQ itu, ia mampu menyabet juara kedua cabang hafalan kategori 30 juz.

   "Ya karena (prestasi) itu dia menjadi kebanggan Lampung," kata Noven diikuti senyum.
Meskipun sudah berprestasi Rahmat rupanya sosok yang humoris. Kejadian itu terjadi saat Noven menanyakan cincin batu yang dipakainya.

   "Eh, coba itu cincin batu apa itu?" pancing Noven.
Rahmat pun membalas. "Ini batu biasa Pak. Nggak ada apa-apanya. Beneran. Batunya jenis saibah," katanya sambil menunjukkan batu cincin yang terpasang di jarinya.
Ke depan, cobaan yang selalu hadir bagi seorang penghafal Alquran adalah ingatan visual. Untuk menghindari itu, banyak dari penghafal Alquran menepi dari dunia modern untuk terus mengulangi hafalan dan bertawaduk. Tetapi, Noven menanggapi metode tersebut dengan berseloroh, "Ya, untungnya  dia tidak bisa 'melihat' itu. Terutama wanita. Hehehe.

   Nah sobat, sudah sepantasnya kita malu dengan Rahmat, dia seorang tunanetra, tetapi mampu menghafalkan Al qur'an 30 juz, sedangkan kita? boro boro 30 juz, 1 juz saja belum hehe. Namun jika kita memang tidak dapat menghafal Al qur'an dengan berbagai alasan setidaknya kita istiqamah membacanya setiap hari dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al qur'an dalam kehidupan sehari.

   Sekian dulu postingan ini yaa,, nanti saya lanjutkan dengan artikel lain tentunya dengan tema yang lain hehe. semoga bermanfaat :)

Rabu, 12 Agustus 2015

Uang Seratus Ribu dan Pelajarannya

Hai sobat :) jumpa lagi dipostingan saya,, hhe
kali ini saya akan menulis sebuah kisah singkat yang memiliki makna untuk kita semua...
Cerita ini saya dapat dari senior saya seorang mufassir yang hafidz hehe. mungkin kisah ini sedikit ada perbedaan, karena saya yang menulis :D, tapi maksud dan tujuannya sama...
simak yaa









    Uang seratus ribu, kita semua pasti mengetahuinya karena seratus ribulah mata uang terbesar di Indonesia. Ketika uang seratus ribu ada ditangan kita, kita pasti menjaganya agar tidak terlipat-lipat apalagi kusam seperti uang seribu perak. Singkat cerita seorang guru di sebuah sekolah ketika dia memberikan pelajaran lewat uang seratus ribu di kelas.

   Dengan memegang uang seratus ribu sembari mengangkat uang itu keatas sang guru berkata "Siapa yang mau uang ini?". Semua murid pun mengangkat tangan dan berkata "Saya mau".

   kemudian guru itu meremas uang itu dengan tangannya dan berkata "Sekarang siapa yang mau uang ini?". Kembali semua murid mengangkat tangan dan mengatakan "Saya mau."

   Selanjutnya dia melemparkan uang itu kelantai dan menginjaknya dengan sepatu sampai uang itu menjadi kotor ia pun berkata "Sekarang siapa yang mau ini?." Tetap saja semua murid mengangkat tangan dan mengatakan "saya mau."

   Saat itulah sang guru memberikan palajaran terhadap muridnya, dia berkata "Inilah pelajaran kalian hari ini, dengan cara bagaimanapun kalian mengubah bentuk mata uang ini tidak akan pernah berpengaruh pada nilainya. Jika dikiaskan dengan kehidupan bagaimanapun kalian dihina, diremehkan, direndahkan, dilecehkan bahkan difitnah, kalian harus tetap yakin bahwa nilai hakiki kalian tidak akan pernah tersentuh, kalian akan teteap berdiri kokoh, secara otomatis kalian memaksa orang lain mengakui harga diri kalian, namun bila kalian kehilangan kepercayaan terhadap diri kalian sendiri, saat itulah kalian kehilangan segala-galanya.

   Demikianlah sebuah kisah singkat dengan pelajaran yang ada didalamnya, semoga ini bermanfaat untuk kita semua, jangan lupa tetap berkunjung ke blog saya, karena postingan yang baru menanti :)